Blog UrbanIndo.com - Informasi Rumah dan Properti

Mencuri Saat Terjadi Bencana? Ini Hukuman Pidananya!

Ketika terjadi bencana, tak jarang ada beberapa pihak yang memanfaatkan kejadian ini. Di tengah korban bencana sedang kesusahan, ada saja orang-orang yang malah mencuri. Sebenarnya, bagaimana sih hukuman terkait hal ini?

Golongan Pencurian

Seperti yang pernah kita bahas beberapa waktu lalu, pencurian sendiri merupakan tindakan mengambil barang orang lain yang bukan haknya. Pencurian sendiri terbagi ke dalam beberapa tingkatan. Khusus pencurian biasa, diatur dalam Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang isinya:

“Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima Tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.”

Nah, khusus nominal dendanya sendiri sudah disesuaikan dengan cara dilipatgandakan seribu kali, sehingga denda paling banyak senilai Rp900.000. Terkait hal ini, sudah diatur dalam Pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP. Tertulis bahwa:

“Tiap jumlah maksimum hukuman denda yang diancamkan dalam KUHP kecuali pasal 303 ayat 1 dan ayat 2, 303 bis ayat 1 dan ayat 2, dilipatgandakan menjadi 1.000 (seribu) kali.”

Pencurian dengan Pemberatan

Bagaimana dengan tindakan pencurian yang dilakukan saat terjadi bencana? Terkait hal ini, tentu hukuman yang diberikan pun lebih berat jika dibandingkan dengan tindakan pencurian biasa. Perbedaannya terletak pada lamanya hukuman penjara paling lama tujuh tahun.

Lebih jelasnya, hal ini tercantum dalam Ayat (1) Pasal 363 KUHP. Berikut isi pasalnya:

“Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:

  1. pencurian ternak;
  2. pencurian pada waktu ada kebakaran, letusan, banjir gempa bumi, atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang;
  3. pencurian di waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada di situ tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak;
  4. pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu;
  5. pencurian yang untuk masuk ke tempat melakukan kejahatan, atau untuk sampai pada barang yang diambil, dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.”

Dikutip dari hukumonline.com, pasal tersebut harus diimbangi dengan tindakan yang mengandung unsur kesengajaan. Sang pelaku harus memang berniat untuk mencuri dan memanfaatkan keadaan. Tak berlaku apabila nyatanya seseorang melakukan tindakan pencurian di rumah yang terkena bencana ketika ia sedang melewati kawasan tersebut.

Temukan juga bahasan hukum properti lainnya di Blog UrbanIndo!