Blog UrbanIndo.com - Informasi Rumah dan Properti

Inilah Bedanya Program Rumah Murah di Indonesia dengan Singapura. Bertentangan?

Program rumah murah ternyata bukan hanya dilakukan Indonesia. Singapura yang letaknya bertetanggaan dengan negara kita pun ternyata memilikinya. Dikenal sebagai negara dengan perkembangan pesat, kira-kira ada bedanya enggak ya rumah murah mereka dengan di Indonesia?

Rumah Dibuat Oleh HDB

Rumah murah bersubsidi di Indonesia disediakan pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Sementara itu, rumah murah di negeri singa tersebut pun digarap oleh pemerintah, tepatnya Kementerian Pembangunan Nasional melalui Housing & Development Board (HDB).

Hunian yang telah dibangun HDB kini telah mencapai 1,020 juta properti.

Sebanyak 91,8% hunian ditujukan untuk penjualan, sementara 5,4% lainnya disewakan. Sisanya digunakan untuk berbagai kepentingan aktivitas bisnis.

Dikutip dari situs hdb.gov.sg, sudah ada 26 perumahan HDB yang berdiri di lima bagian wilayah Singapura.

Beberapa di antaranya ialah perumahan Sembawang, Punggol, dan Tampines. Disebutkan pula, lebih dari 80% penduduknya tinggal di perumahan yang disediakan oleh pemerintah ini.

Sumber Dana HDB

Dilansir dari finance.detik.com, perumahan HDB mendapatkan dana pembangunan yang cukup besar dari pemerintah yaitu 3,9% dari total belanja negara US$76,1 miliar. Dana tersebut pun telah mencakup subsidi perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Tidak hanya itu, HDB pun mendapatkan dana dari pinjaman bank serta penerbitan surat utang.

Disebutkan, ada pula beberapa investor yang cukup tertarik untuk mengucurkan dana pembangunan perumahan tersebut, baik jangka pendek maupun menengah.

Bentuk & Fasilitas Rumah

Singapura merupakan negara kecil yang luasnya hanya 719,1 km².

Akibat luas negeranya yang kecil, tingkat kepadatannya pun cukup besar yaitu 7.797 orang per km². Menyiasati hal tersebut, banyak perumahan di sana yang dibuat dalam bentuk vertikal.

Perumahan yang disediakan oleh HDB pun sama. Tiap blok hunian apartemen/rusun tersebut terdiri dari satu bangunan bertingkat sampai dengan 50 lantai.

Unit huniannya sendiri berbeda-beda berdasarkan jumlah kamarnya. Umumnya pada perumahan tersebut tersedia unit dengan dua hingga lima kamar tidur.

Biarpun tampak berjejal, perumahan tersebut dibuat dengan begitu nyaman.

Salah satu contohnya di Tampines yang dibuat dengan konsep eco-green.

Lingkungan di sana sangat natural lengkap dengan hutan dan kolam. Perumahan ini pun tersambung dengan area bersepeda dan taman.

Hunian murah di Indonesia sendiri dibagi dua, ada yang berbentuk rumah tapak dan juga vertikal berupa rusun. Luas rumah tapak murah yang ditawarkan memiliki tipe 36, sementara itu untuk rusun mulai dari tipe 21.

Syarat Mendapatkan Subsidi

Di Indonesia, masyarakat yang berhak mendapatkan rumah murah ialah mereka yang tergolong sebagai masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Sistem pembelian rumah murah itu sendiri menggunakan skema KPR.

Mereka yang ingin membeli rumah tapak murah bersubsidi penghasilannya maksimal Rp4 juta, sementara untuk rusun maksimal Rp7 juta.

Selain itu, rumah murah tersebut haruslah bersatus sebagai hunian pertama yang dimilikinya.

Bagaimana dengan Singapura? Dikutip dari situs finance.detik.com, ada dua syarat yang wajib dipenuhi warganya untuk mendapatkan hunian di perumahan HDB, yaitu:

  1. Berstatus sebagai warga negara Singapura.
  2. Memiliki penghasilan tetap. Nominal gaji yang dimiliki menjadi penentu tipe rumah yang dapat dimiliki. Sebagai contoh, dengan minimal pendapatan US$4.600 sebulan, mereka bisa mendapatkan satu hunian dengan empat kamar. Ingin lebih dari itu? Tentunya minimal pendapatan pun harus lebih besar.

Mereka yang telah memenuhi syarat tersebut, dapat mengajukan pembelian hunian HDB.

Sama seperti di Indonesia, pembelian hunian tersebut dapat dilakukan secara bertahap alias dengan cara mencicil.

Rumah murah di bawah HDB ini bukan hanya dapat dibeli oleh mereka yang berpendapatan rendah.

Seluruh masyarakat HDB yang telah memenuhi syarat dapat membelinya. Sementara itu, mereka yang berpenghasilan rendah bisa mendapatkan bantuan subsidi dari pemerintah.

Wah, ternyata ada persamaan serta perbedaan ya pada sistem hingga syarat yang ditetapkan kedua negara ini soal rumah murah. Semoga ulasan di atas bermanfaat untuk Anda.