Blog UrbanIndo.com - Informasi Rumah dan Properti

Rumah Sewaan Dijual Pemiliknya, Bagaimana Nasib Penyewa?

Apakah Anda sedang menyewa atau mengontrak sebuah rumah?

Coba pastikan Anda memiliki surat perjanjian sewa sejak awal masa sewa berlangsung!

Masalahnya, bagaimana jika suatu saat sang pemilik malah menjual rumah sewaan tersebut? Bagaimana nasib Anda sebagai seorang penyewa?

Termasuk Bukti Tertulis

Sebelum membahas nasib Anda sebagai penyewa, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu mengenai perjanjian sewa.

Terkait hal ini, kita akan mengacu pada Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer).

“Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat:

  1. kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
  2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
  3. suatu pokok persoalan tertentu;
  4. suatu sebab yang tidak terlarang.”

Jika perjanjian sewa yang Anda miliki terdiri dari keempat unsur tersebut, maka perjanjian tersebut sudah sah.

Selanjutnya, perjanjian sewa yang dibuat tertulis ini tergolong salah satu bukti tertulis, sesuai dengan isi Pasal 1866 KUHPer.

Kekuatan Bukti Tertulis

Sudah paham mengenai bukti tertulis?

Nah, nyatanya ada dua jenis bukti tertulis sebagaimana yang ditulis dalam Pasal 1867 KUHPer, yaitu tulisan otentik dan tulisan di bawah tangan.

Apa perbedaan keduanya?

Langsung saja kita lihat penjelasan mengenai akta otentik yang tercantum dalam Pasal 1868 KUHPer berikut ini:

“Suatu akta otentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat.”

Selanjutnya, tulisan di bawah tangan tercantum dalam paragraf pertama Pasal 1874 KUHPer yang isinya:

“Yang dianggap sebagai tulisan di bawah tangan adalah akta yang ditandatangani di bawah tangan, surat, daftar, surat urusan rumah tangga dan tulisan-tulisan yang lain yang dibuat tanpa perantaraan seorang pejabat umum.”

Dikutip dari hukumonline.com, diketahui juga bahwa kekuatan sebuah akta bukan berdasarkan adanya materai atau tidak. Kekuatan perjanjiannya ada pada siapa saja pihak yang membuat perjanjian tersebut.

Sebuah materai bisa digunakan sebagai sebuah alat bukti di pengadilan.

Hubungan Sewa Tidak Putus

Lalu, bagaimana nasib Anda sebagai seorang penyewa?

Tenang saja, perjanjian sewa Anda tidak akan berakhir meski rumah yang disewa sudah dijual oleh pemiliknya.

Perjanjian sewa yang ada akan tetap bersifat mengikat.

Hal ini pun sesuai dengan isi Pasal 1576 KUHPer yang isinya:

“Dengan dijualnya barang yang disewa, sewa yang dibuat sebelumnya tidak diputuskan kecuali bila telah diperjanjikan pada waktu menyewakan barang. Jika ada suatu perjanjian demikian, penyewa tidak berhak menuntut ganti rugi bila tidak ada suatu perjanjian yang tegas, tetapi jika ada perjanjian demikian, maka ia tidak wajib mengosongkan barang yang disewa selama ganti rugi yang terutang belum dilunasi.”

Berdasarkan isi pasal di atas, sudah dapat dilihat dengan jelas bahwa perjanjian sewa antara Anda dengan pemilik awal tidak akan putus, kecuali masa sewanya sudah habis.

Pada intinya, ini dikembalikan lagi pada isi perjanjian sewa yang dibuat di awal.

Apabila ternyata perjanjian sewa yang Anda buat merupakan tulisan di bawah tangan, tak perlu khawatir. Perjanjian tersebut tetap memiliki kekuata seperti akta otentik selama semua pihak yang membuat perjanian mengakuinya.

Bagaimana jika nyatanya pemilik rumah sewa tidak mengakui perjanjian tersebut?

Jika hal ini terjadi, Anda selaku penyewa harus bisa membuktikan kebenarannya!

Kini sudah jelas ‘kan? Anda tak perlu khawatir apabila rumah sewa atau rumah kontrakan dijual oleh pemiliknya. Hal yang terpenting, mulai sekarang Anda harus membuat perjanjian ketika menyewa rumah.

Temukan juga bahasan hukum lainnya di sini!