Pengembang Bangkrut, Bagaimana Nasib Rumah dan Cicilan KPR?

Ketika kita memutuskan untuk membeli rumah dari pengembang, tentu perlu berhati-hati juga.

Mengapa?

Bisa saja pembeli dirugikan oleh pengembang yang bermasalah. Oleh karena itu, sebaiknya ketahui terlebih dahulu riwayat pengembang tersebut!

Lalu, bagaimana jika di tengah-tengah transaksi, nyatanya pengembang malah bangkrut?

Ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu apakah rumah yang dibeli sudah selesai dibangun atau masih dalam tahap pembangunan (indent).

Jika Rumah Sudah Selesai Dibangun…

Hal pertama yang akan kita bahas kali ini adalah rumah yang sudah selesai dibangun atau yang sudah jadi.

Sudahkah Anda mengalami hal-hal berikut ini?

  • Permohonan KPR sudah disetujui bank, uang muka sudah dibayar, dan PPJB sudah ditanda-tangani;
  • Sudah menandatangani akad kredit bank;
  • AJB sudah diproses dan sertifikat tanah atas nama Anda.

Kalau sudah begitu, maka rumah yang dibeli sudah resmi menjadi milik Anda.

Jadi, ketika saat mencicil rumah dan ternyata pengembang atau ­developer-nya bangkrut, hal ini bukanlah menjadi sebuah masalah bagi Anda.

Bagaimana dengan nasib cicilan KPR?

Tentu saja Anda harus melanjutkan cicilan KPR sesuai dengan perjanjian kredit yang sudah ditandatangani sejak awal.

Jika yang Dibeli adalah Rumah Indent…

Membeli rumah yang belum selesai dibangun oleh pengembang bukanlah hal yang baru. Rumah ini biasa disebut juga dengan rumah indent.

Dalam hal ini, biasanya kita sebagai pembeli sudah membayarkan sejumlah uang atau mencicil sambil menunggu rumah tersebut selesai dibangun.

Biasanya, Anda hanya akan memiliki PPJB yang ditandatangani oleh pihak pengembang. Anda yang belum memiliki AJB dan sertifikat tanah tentunya membuktikan bahwa rumah yang dicicil selama ini masih milik pengembang.

Pada Pasal 37 Ayat (1) UU No 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Utang (UU KPKPU) dijelaskan bahwa:

Apabila dalam perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 telah diperjanjikan penyerahan benda dagangan yang biasa diperdagangkan dengan suatu jangka waktu dan pihak yang harus menyerahkan benda tersebut sebelum penyerahan dilaksanakan dinyatakan pailit maka perjanjian menjadi hapus dengan diucapkannya putusan pernyataan pailit, dan dalam hal pihak lawan dirugikan karena penghapusan maka yang bersangkutan dapat mengajukan diri sebagai kreditor konkuren untuk mendapatkan ganti rugi.”

Sayangnya, Anda sama sekali tidak bisa menuntut pengembang yang bangkrut untuk mengeluarkan AJB. Meskipun demikian, Anda bisa menuntut ganti rugi kepada pihak pengembang seperti yang tercantum dalam Pasal 115 Ayat (1) UU KPKPU.

Perlu Anda ketahui bahwa hapusnya PPJB tidak akan turut menghapus Perjanjian Kredit. Hal ini tentu karena keduanya merupakan perjanjian terpisah.

Dijelaskan dalam hukumonline.com, apabila bangkrutnya pengembang tergolong dalam kategori memaksa, maka Anda sebagai debitor tidak harus membayar biaya, rugi, dan bunga jika cicilan KPR tak dilanjutkan.

Pada intinya, risiko yang ada akan ditanggung oleh pihak pengembang dan bahkan Anda bisa menuntut ganti rugi kepada pihak pengembang.

Butuh informasi hukum properti lainnya? Klik di sini!

Comments
Loading...