Tanah Belum Dikembalikan Negara, Kakek Ini Ikhlas Hidup Seadanya

Saat baru merdeka pada 1945, kondisi ekonomi Indonesia masih carut-marut. Bahkan untuk membeli pesawat pertama kita, banyak masyarakat yang harus ikut udunan sebagai modal. Ada yang memberi uang kontan, hewan ternak, ada pula yang merelakan tanah miliknya dijual dan diserahkan pada negara.

Salah satunya yang ikut memberikan hartanya ialah Nyak Sandang, seorang lelaki yang kini sudah berusia 91 tahun.

Dikutip dari situs viva.co.id, Nyak mengisahkan bahwa pada tahun 1950, Gubernur Aceh masa itu Tgk Daud Bere’euh berkunjung ke tempat tinggalnya di Desa Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.

Pada kunjungannya, Tgk Daud menyampaikan permintaannya agar masyarakat Lamno menyisihkan hartanya untuk membeli pesawat

Ia mengisahkan…

Tgk Daud Bere’euh meminta masyarakatnya di Desa Lamno menyisihkan harta untuk membeli pesawat Seulawah 001.

Pesawat ini sekarang lebih dikenal sebagai Garuda Indonesia.

Sepetak Tanah yang Dipinjam dan Tak Kunjung Kembali

Nyak Sandang yang kala itu masih berusia 23 tahun menyumbangkan sepetak tanah seluas 40 batang kelapa bersama sang ayah.

Kala itu, mereka mendapatkan uang sebesar 100 perak untuk tanahnya tersebut.

Keuntungan dari penjualan itu pun langsung dikumpulkan.

Sebagai bentuk kecintaan negara, Nyak Sandang dan ayahnya pun tak berpikir panjang saat merelakan harta berharganya tersebut.

Ia pun semakin bersemangat ketika melihat warga di sekitarnya melakukan hal yang sama.

Toh, negara pun saat itu menjanjikan pengembalian harta yang telah disumbangkan dalam kurun waktu 40 tahun.

Nyak Sandang, ayahnya, beserta masyarakat yang ikut menyumbang diberikan surat utang (obligasi) sebagai tanda untuk mengambil apa yang telah dipinjam.

Pada viva.co.id Nyak Sandang mengutarakan, di dalam surat tersebut tertera informasi jelas mengenai utang yang negara pinjam padanya. Beberapa di antaranya terdapat nama pemberi, tahun, jenis utang, jumlah, hingga tanda tangan penerima.

Waktu berlalu, namun harta yang telah mereka pinjamkan tak kunjung dikembalikan negara.

Hingga saat ini, Nyak Sandang dan masyarakat Desa Lamno belum mendapatkan ganti.

Surat obligasi itu pun seolah tak ada harganya, padahal bila dibayarkan mungking Nyak Sandang bisa mengelola tanah tersebut dengan baik. Sungguh miris!

Renta dan Sakit-sakitan namun Tak Menuntut Hartanya Kembali

Kini Nyak Sandang sudah tak muda lagi, tubuhnya pun diserang berbagai penyakit mulai dari masalah pendengaran dan gangguan penglihatan akibat katarak.

Ia pun tinggal dengan sederhana di rumah yang ukurannya hanya 6×6 meter saja.

Biarpun begitu, Nyak Sandang mengutarakan tidak ada niat sedikit pun dari dirinya untuk menuntut negara mengembalikan hartanya tersebut.

Dirinya mengaku sudah ikhlas dan menjadikan pengorbanannya ini sebagai caranya membangun Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh Nyak Sandang, merupakan pelajaran berharga bagi kita semua. Semoga kisahnya menginspirasi Anda, Urbanites!

Comments
Loading...