Wajib Tahu! Cara Hibah Tanah Kepada Anggota Keluarga

Anda tentu pernah mendengar kata hibah.

Banyak yang bisa dihibahkan, baik berupa hibah tanah dan bangunan.

Nah, tahukah Anda mengenai aturan hibah kepada anggota keluarga?

Bukan hanya diberikan begitu saja, namun ada syarat dan aturan yang tetap harus dipenuhi.

Kita bahas bersama, yuk!

Apa Itu Hibah?

Sebelum menjelaskan lebih jauh, sebenarnya apa itu hibah?

Secara garis besar, hibah adalah memberikan barang secara gratis dan dilakukan oleh kedua pihak yang masih hidup.

Penjelasan hibah lebih jelas tertulis dalam Pasal 1666 KUHPer yang isinya:

“Penghibahan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang penghibah menyerahkan suatu barang secara cuma-cuma, tanpa dapat menariknya kembali, untuk kepentingan seseorang yang menerima penyerahan barang itu. Undang-undang hanya mengakui penghibahan-penghibahan antara orang-orang yang masih hidup.”

Syarat dan Cara Hibah

Setelah tahu apa itu hibah, kini kita ketahui dulu syarat dan caranya.

Pertama-tama, harus diketahui dulu bahwa semua orang berhak memberi dan menerima hibah, namun tetap ada aturannya.

Dijelaskan dalam 1677 KUHPer bahwa anak-anak di bawah umur tidak boleh menghibahkan sesuatu kecuali dalam hal yang ditetapkan dalam UU Perdata.

Ketika ada yang dihibahkan, maka harus menggunakan akta notaris dan berkas aslinya disimpan oleh notaris.

Perlu diingat juga bahwa:

Penghibahan diterima dengan kata-kata tegas oleh orang yang diberi hibah atau oleh wakilnya yang telah diberi kuasa.

Bagaimana jika ingin menghibahkan sesuatu kepada anak di bawah umur?

Tentu saja bisa!

Lebih jelasnya, lihat isi pasal 1685 KUHPer berikut ini:

“Hibah kepada anak-anak di bawah umur yang masih berada di bawah kekuasaan orangtua, harus diterima oleh orang yang menjalankan kekuasaan orangtua itu. Hibah kepada anak-anak di bawah umur yang masih di bawah perwalian atau kepada orang yang ada di bawah pengampuan, harus diterima oleh wali atau pengampunya yang telah diberi kuasa oleh Pengadilan Negeri. Jika pengadilan itu memberi kuasa termaksud maka hibah itu tetap sah. meskipun penghibah telah meninggal dunia sebelum terjadi pemberian kuasa itu.”

Wajib Dibuatkan Akta oleh PPAT

Proses hibah yang dalam hal ini adalah tanah perlu dibuktkan dengan akta yang dibuat oleh PPAT.

Aturan mengenai hal ini secara jelas tercantum dalam Pasal 37 Ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997:

“Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Selanjutnya, di dalam Pasal 38 dijelaskan bahwa pembuatan akta hibah harus:

Dihadiri oleh para pihak yang melakukan hukum yang bersangkutan dan disaksikan oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi yang memenuhi syarat untuk bertindak sebagai saksi dalam perbuatan hukum itu.

Tak memandang keluarga atau bukan, ketika ada tanah yang dihibahkan, maka harus dibuat akta hibah yang dibuat oleh PPAT.

Ketika akta tersebut sudah ditandatangani (paling lambat 7 hari), PPAT wajib:

  • Mendaftarkan akta hibah dan dokumen terkait ke Kantor Pertanahan setempat
  • Menyampaikan pemberitahuan tertulis mengenai telah disampaikannya akta kepada para pihak yang bersangkutan

Perlu Anda tahu:

  • Pemberi hibah akan dikenakan pajak penghasilan (PPh)
  • Penerima hibah akan dikenakan BPHTB

Meskipun ada pajak yang harus dibayar, ternyata ini tak berlaku bagi beberapa anggota keluarga.

Kok bisa?

Tunggu bahasan hukum properti selanjutnya di Blog UrbanIndo, ya!

Comments
Loading...