Untung Rugi KPR yang Belum Banyak Orang Tahu, Ternyata…

Banyak orang yang mengajukan KPR, tapi belum tahu untung rugi KPR.

Kredit pemilikan rumah atau yang biasa disingkat dengan KPR tentu bukanlah hal yang asing lagi.

Kenapa?

Banyak orang yang ingin memiliki rumah, namun terkendala oleh biaya.

Nah, Layanan KPR pun hadir sebagai solusi.

Anda jadi bisa memiliki rumah tanpa harus menyiapkan uang dalam jumlah banyak.

Cukup siapkan uang muka, rumah pun bisa langsung dihuni!

Sudah banyak yang menggunakan layanan ini, namun belum banyak yang tahu soal rahasia KPR.

Namanya kredit, tentu ada bunga yang harus dibayar.

Meskipun demikian, nampaknya ini bukan menjadi masalah besar asalkan:

Rumah bisa dimiliki dengan cepat dan mudah.

Baca artikel ini sampai selesai dan Anda akan mendapatkan informasi:

  • Untung rugi KPR
  • Risiko KPR (berkaitan dengan hukum)
  • Perbedaan KPR konvensional dengan KPR syariah
  • Syarat dan berkas KPR

Kalau sudah tahu semuanya, pasti Anda:

Bisa membeli rumah dengan sangat untung.

#1 Untung Rugi KPR yang Belum Banyak Orang Tahu, Ternyata…

Banyak orang yang tahu mungkin sebatas KPR bisa:

Membantu untuk beli rumah, tapi kerugian KPR adalah bunganya yang cukup besar.

Sebenarnya masih ada gak sih untung rugi KPR yang lain?

Tentu ada!

Keuntungan KPR

Pertama-tama kita bahas dulu keuntungan KPR.

Seperti yang kita tahu, KPR akan membantu kita untuk memiliki rumah dengan mudah.

Layanan KPR pun sudah disediakan oleh beragam bank di Indonesia.

Hal ini membuat siapapun bisa menggunakan layanan ini dengan mudah asalkan bisa memenuhi persyaratannya.

Ini dia keuntungan KPR:

1. Tak Perlu Menyiapkan Banyak Uang

Tentu saja ini menjadi hal yang paling menguntungkan.

Bayangkan saja kalau Anda berpenghasilan pas-pasan, tapi ingin membeli rumah yang harganya hampir Rp1 miliar.

Tentu akan sulit mengumpulkan uangnya bukan?

Entah kapan bisa memiliki rumah kalau kondisinya seperti ini.

Nah, melalui layanan KPR, Anda hanya perlu menyiapkan uang dalam jumlah ‘sedikit’.

Cukup siapkan uang sejumlah uang muka yang dibutuhkan.

Perlu Anda ketahui:

Uang muka atau DP rumah saat ini sekitar 15 – 20%.

Misalnya, Anda membeli rumah seharga Rp750 juta.

DP KPR yang harus disiapkan adalah sekitar:

Rp750 juta x 15% = Rp112,5 juta.

Hanya denga Rp112,5 juta, Anda bisa langsung menempati rumah seharga Rp750 juta.

Mudah bukan?

2. Bisa Menyiasati Jumlah Cicilan

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak yang merasa keberatan dengan jumlah cicilan KPR.

Tahukah Anda?

Nyatanya, jumlah cicilan KPR bisa disiasati!

Anda bisa membayar cicilan KPR dengan jumlah yang sangat minim.

Tertarik?

Kalau begitu, Anda harus:

Membayar DP KPR dengan nominal yang lebih besar

atau

Memilih tenor yang panjang agar cicilan bulanan terasa ringan.

Perlu diingat bahwa tenor yang panjang memang akan membuat cicilan bulanan lebih kecil, tapi tanpa disadari total yang harus dibayar jadi lebih besar.

3. Legalitas Rumah Terjamin

Ketika membeli rumah secara KPR, tentu Anda tak perlu khawatir dengan legalitas dari rumah tersebut.

Kenapa?

Pihak bank tentu akan mengecek terlebih dahulu semua berkas dari rumah yang akan dibeli.

Pengecekan ini tentu dilakukan oleh pihak bank melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Oleh karena itu…

Anda tak perlu khawatir atas rumah yang dibeli secara KPR.

Kemungkinan rumah tersebut bermasalah di kemudian hari akan sangat kecil.

4. Dapat Perlindungan Asuransi

Perlu Anda ketahui, rumah yang dibeli melalui KPR akan mendapatkan asuransi.

Tentu saja asuransi yang didapat adalah asuransi properti dari bank.

Bagaimana cara bayarnya?

Biaya asurasinya biasanya sudah termasuk ke dalam cicilan KPR yang harus dibayar setiap bulan.

Asuransi KPR yang akan didapat adalah asuransi kebakaran.

Kerugian KPR

Setelah membahas keuntungannya, kini saatnya untuk mengetahui kerugian KPR.

Kerugian-kerugian ini tentunya harus Anda waspadai dan bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk KPR.

Langsung saja, kerugian KPR terdiri dari:

1. DP Rumah Tergolong Mahal

Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu hambatan beli rumah adalah DP yang tergolong mahal.

Seperti yang kita tahu bahwa jumlah uang yang perlu disiapkan adalah 15% – 20% dari harga rumah.

Semakin mahal harga rumah, maka akan semakin mahal juga uang muka atau DP yang harus disiapkan.

Meski hanya 15% – 20%, jumlah ini tergolong besar bagi Anda yang penghasilannya pas-pasan.

Oleh karena itu…

Banyak yang menunda beli rumah karena terhalang biaya DP.

2. Harga Rumah Jadi Lebih Mahal

Harga rumah KPR yang lebih mahal nampaknya bukanlah menjadi rahasia lagi.

Harga rumah yang membengkak disebabkan oleh adanya bunga cicilan KPR yang harus dibayarkan per bulan.

Bukan tidak mungkin kalau bunga KPR ini terus naik, apalagi jika Anda menggunakan KPR konvensional.

Bayangkan saja:

Anda harus membayar rumah dengan harga yang jauh lebih mahal karena KPR daripada membayarnya secara cash atau tunai.

Rela?

Kalau hal ini tak menjadi masalah, tentu ada baiknya pertimbangkan dulu saat memilih bank

Jangan sampai Anda mengalami kredit macet di tengah-tengah cicilan!

3. Rumah Bisa Disita

Risiko lain yang harus siap Anda tanggung adalah rumah yang akan disita.

Eits… tenang saja!

Rumah Anda baru akan disita jika tak mampu membayar cicilan KPR sesuai dengan nominal dan waktu yang telah ditentukan.

Bukan tak mungkin setelah beberapa kali tak bisa membayar cicilan, rumah Anda akan disita.

Kalau sudah begini, tentu akan sangat bingung bukan?

Kini Anda sudah tahu untung rugi KPR, maka sebaiknya dipertimbangkan dengan matang, ya!

#2 Risiko KPR: Rumah Bisa Disita atau Dijual Bank Kalau KPR Macet

Jika di poin sebelumnya kita sudah bahas mengenai untung rugi KPR, kini kita akan bahas juga soal risiko KPR.

Wah, ada ya?

Tak tanggung-tanggung, risiko KPR ini berhubungan dengan hukum.

Tak usah takut dulu!

Sebaiknya kita bahas dulu apa risiko KPR yang dimaksud.

Begini…

Ketika kita sudah memutuskan untuk membeli rumah menggunakan layanan KPR, maka harus siap untuk cicilan bulanannya.

Cicilan yang disertai bunga terkadang terus membengkak.

Terlebih lagi jika menggunakan KPR konvensional yang bunganya bisa saja naik sewaktu-waktu.

Oleh karena itu…

Tak jarang terjadi KPR macet.

KPR macet adalah cicilan KPR yang tidak bisa dibayar sesuai dengan jatuh tempo, alias menunggak.

Apa risiko dan sanksi yang akan didapat?

Berkaitan dengan hal ini, kita akan berpedoman pada:

UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah.

Undang-undang ini dikenal juga dengan UU Hak Tanggungan.

Seperti yang kita pahami bersama, KPR adalah bentuk perjanjian kredit antara Anda dnegan pihak bank.

Nah, dalam UU Tangungan ini aturan apabila tidak bisa memenuhi perjanjian kredit.

Di dalam Pasal 6 UU Hak Tanggungan tertulis:

“Apabila debitor cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut.”

Itu artinya:

Apabila Anda tidak bisa membayar cicilan KPR dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka…

Pihak bank berhak menjual rumah Anda dan mengambil uang hasil penjualan dari rumah tersebut.

Lalu…

Bagaimana jika hasil penjualan/hasil lelang masih kurang?

Kalau ternyata hal ini terjadi, pihak bank akan melakukan gugatan wanprestasi terhadap Anda.

Apa itu gugatan wanprestasi?

Dikutip dari laman hukumonline.com, wanprestasi cicilan KPR tergolong dalam masalah perjanjian utang-piutang.

Nah, masalah ini termasuk ke dalam hukum privat.

Kenapa?

Kasus yang satu ini berkaitan dengan hubungan pribadi antara subjek hukum.

Selanjutnya, hal seperti ini juga tergolong ke dalam hukum perdata.

Oleh karena itu…

Langkah yang harus Anda lakukan adalah membayar sisa utang kepada bank penyedia KPR.

#3 KPR Konvensional dan KPR Syariah, Lebih Baik Pilih Mana?

Pernah mendengar istilah bunga flat dan bunga floating?

Ini adalah bunga cicilan KPR yang ada dalam KPR konvensional dan KPR syariah.

Perlu digarisbawahi:

Kedua jenis bunga KPR ini berpengaruh pada besar cicilan bulanan.

Apa perbedaan KPR konvensional dengan KPR syariah?

Kira-kira apa untung rugi KPR konvensional dan syariah?

KPR Konvensional, Bunga Awal Lebih Ringan

Pertama, kita bahas dulu apa itu KPR konvensional.

Jenis KPR yang satu ini sangat mudah ditemukan.

Anda pasti akan menemukannya di semua bank penyedia layanan KPR.

Meskipun banyak digunakan, Anda harus:

Rajin dan cermat untuk membandingkan bunga antar bank.

Sebisa mungkin pilihlan bunga KPR yang paling ringan.

Bukan hanya akan menguntungkan Anda di awal, tapi ini juga menjadi penentu nasib cicilan di kemudian hari.

Pasalnya, ini berkaitan dengan:

Suku bunga KPR konvensional yang mengambang (floating).

Ini artinya suku bunga akan terus naik mengikuti Suku Bunga dasar Kredit Bank (SDBK) yang berlaku.

KPR Syariah, Solusi Bunga Cicilan Flat

Selanjutnya, bagaimana dengan KPR syariah?

Berbeda dengan KPR konvensional yang menerapkan suku bunga floating,

KPR syariah menerapkan suku bunga tetap (fixed).

Artinya:

Cicilan KPR yang harus dibayar dari awal hingga selesai akan selalu sama.

Bukan hanya suku bunga fixed, KPR syariah juga tidak menggunakan sistem bunga.

Sesuai dengan namanya, KPR syariah akan Anda temukan di bank-bank syariah.

Ada beragam sistem pembayaran KPR syariah.

Berikut tiga jenis pembayaran KPR syariah:

1. Murabahah

Jenis pembayaran ini paling banyak digunakan karena paling mudah dipahami.

Murabahah mengusung konsep jual beli yang ditentukan oleh margin.

Margin pun akan disepakati sejak awal dan akan berlaku hingga akhir pembayaran.

Penjual rumah akan memberi tahu mengenai harga pokok objek penjualan kepada nasabah.

Setelah itu, kedua belah pihak bisa melakukan negosiasi dan pihak bank pun bisa ikut melakukan negosiasi.

2. Musyarakah Mutanaqishah

Jenis pembayaranan yang kedua ini mengusung konsep pembelian dengan sistem kerja sama.

Tentunya kerja sama akan terjadi antara nasabah dengan pihak bank.

Lebih jelasnya begini:

Rumah akan dibeli secara bersama-sama oleh nasabah dan pihak bank.

Dalam hal ini, pihak bank akan membayar dengan nominal yang lebih besar.

Anggap saja pihak bank membayar 80% dan nasabah 20%.

Rumah yang dibeli ini nantinya akan disewakan oleh pihak bank kepada nasabah.

Setiap bulannya, nasabah harus membayar uang sewa kepada bank.

Kepemilikan rumah ini akan terus berkurang seiring dengan jumlah cicilan yang terus dibayarkan kepada pihak bank.

3. Ijarah Muntanhia Bittamlik

Namanya yang cukup rumit membuat jenis pembayaran ini sering disingkat menjadi IMBT.

Prinsip yang diusung adalah sewa beli dan masih cukup jarang ditemukan di bank syariah.

Begini alur penggunaan sistem pembayaran IMBT:

Bank akan membayarkan rumah yang diinginkan nasabah secara lunas.

Rumah akan disewakan dan nasabah waib membayar uang sewa.

Saat awal transaksi, nasabah harus memberikan uang muka yang kemudian dijadikan uang jaminan.

Ketika masa sewa telah berakhir, nasabah akan diminta menentukan apakah rumah tersebut akan dibeli atau tidak.

Jika tidak dibeli, maka rumah akan menjadi milik bank.

Menurut Anda, lebih untung pakai KPR yang mana?

#4 Beda Profesi, Beda Syarat dan Berkas KPR!

Sudah tahu ‘kan untung rugi KPR itu apa saja?

Nah, kalau sudah semakin mantap untuk beli rumah pakai KPR, Anda harus tahu juga apa saja persyaratan yang harus dipenuhi.

Lebih jelasnya, berikut syarat umum pengajuan KPR:

  • Warga Negara Indonesia (WNI);
  • Berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah;
  • Usia tak lebih dari 61 tahun saat masa kredit berakhir;
  • Memiliki penghasilan tetap dengan masa kerja atau masa usaha minimal 1 tahun;
  • Memiliki NPWP.

Perlu Anda ingat juga bahwa terkadang ada syarat tambahan dari bank.

Syarat-syarat di atas hanya merupakan syarat umum yang tentu harus Anda perhatikan.

Kalau sudah tahu apa saja syarat KPR, Anda juga harus tahu:

Berkas pengajuan KPR.

Oh, ya, berkas pengajuan akan disesuaikan juga dengan profesi Anda.

Langsung saja, ini dia berkas pengajuan KPR yang harus disiapkan:

Karyawan

Bagi Anda yang berprofesi sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan, berikut berkas yang harus disiapkan:

  • Formulir pengajuan KPR yang sudah ditandatangani pemohon;
  • Fotokopi KTP;
  • Fotokopi Kartu Keluarga (KK);
  • Fotokopi NPWP;
  • Surat keterangan nikah (bagi yang sudah berkeluarga);
  • Slip gaji terakhir (asli);
  • Rekening koran (3 bulan terakhir).

Bagaimana jika profesi Anda bukan seorang karyawan, namun berpenghasilan tetap?

Sebenarnya berkas yang harus disiapkan sama saja, namun ada beberapa berkas tambahan.

Wiraswasta

Selain berkas-berkas di atas, siapkan juga:

  • Fotokopi neraca laba rugi;
  • Surat pendirian usaha dan bukti izin usaha.

Freelancer

Di zaman yang sudah modern ini…

Banyak yang tidak memiliki pekerjaan di kantor, namun memiliki penghasilan tetap dari pekerjaannya sebagai seorang freelancer.

Anda salah satunya?

Kalau begitu, siapkan berkas tambahan ini:

  • Surat kontrak kerja dari klien;
  • Bukti pembayaran pajak;
  • Fotokopi buku tabungan 6 bulan terakhir.

Siapkan semua berkasnya sesuai profesi Anda, ya!

Kini sudah paham bukan seluk-beluk KPR?

Melihat untung rugi KPR di atas, jangan lupa untuk lebih cermat saat akan mengajukan KPR!

Pikirkan bahwa ada cicilan KPR yang harus Anda bayar selama beberapa tahun.

Jangan sampai cicilan tersebut malah membebani Anda.

Temukan juga beragam bahasan properti lainnya hanya di Blog UrbanIndo.

Sebelum mengajukan KPR, temukan dulu rumah impian di UrbanIndo hanya dengan klik di sini!

Comments
Loading...