Penggunaan Speaker Masjid Ternyata Ada Aturannya. Jangan Diabaikan!

Gara-gara suara speaker masjid, seorang ibu di Tanjung Balai, Sumatera Utara dibui. Pasalnya, ia dituduh melakukan penistaan agama karena keluhannya terhadap kerasnya suara azan dari masjid. Hal itu kemudian memicu sejumlah orang melakukan perusakan klenteng dan wiahara di Tanjung Balai.

Bukan di Sumatera Utara saja. Pada tahun 2013, ada pula seorang warga Aceh yang melayangkan keluhannya soal pengeras suara masjid.

Ia bahkan membawa hal ini ke meja hijau.

Hal ini pun kemudian dapat diselesaikan dengan pencabutan tuntutan.

Persoalan mengenai suara speaker masjid juga jadi pro kontra di linimasa, salah satunya Twitter.

Ada yang merasa terganggu, ada juga mereka yang terima-terima saja dengan kerasnya suara tersebut.

Di sisi lain ternyata ada aturan penggunaan pengeras suara masjid yang perlu diketahui dan juga ditaati, lho!

Aturan Mengenai Speaker Masjid

Penggunaan pengeras suara masjid telah diatur dalam Lampiran Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor KEP/D/101/1978 (Instruksi Direktur Jenderal Bimas 101/1978) tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushalla.

Seperti ini rincian aturan penggunaan speaker masjid sesuai Instruksi Dir. Jenderal Bimas 101/1978:

Waktu Subuh

  1. Sebelum waktu subuh, dapat dilakukan kegiatan-kegiatan dengan menggunakan pengeras suara paling awal 15 menit sebelum waktunya. Kesempatan ini digunakan untuk membangunkan kaum muslimin yang masih tidur, guna persiapan solat, membersihkan diri, dan lain-lain
  2. Kegiatan pembacaan ayat suci Alquran dapat menggunakan pengeras suara ke luar. Sedangkan ke dalam tidak disalurkan agar tidak mengganggu orang yang sedang beribadah di masjid.
  3. Azan waktu subuh menggunakan pengeras suara ke luar.
  4. Solat subuh, kuliah subuh, dan semacamnya menggunakan pengeras suara (bila diperlukan untuk kepentingan jamaah) dan hanya ditujukan ke dalam saja.

Waktu Dzuhur dan Jumat

  1. Lima menit menjelang dzuhur dan 15 menit menjelang waktu dzuhur dan Jumat diisi dengan bacaan Alquran yang ditujukan ke luar.
  2. Demikian juga suara azan bila telah tiba waktunya.
  3. Bacaan solat, doa pengumuman, khutbah dan lain-lain menggunakan pengeras suara yang ditujukan ke dalam.

Ashar, Maghrib, dan Isya

  1. Lima menit sebelum azan dianjurkan membaca Alquran.
  2. Saat datang waktu solat, dilakukan azan dengan pengeras suara ke luar dan ke dalam
  3. Sesudah azan, sebagaimana lain-lain waktu hanya menggunakan pengeras suara ke dalam
  4. Takbir, tarhim, dan ramadan
  5. Takbir Idul Fitri dan Idul Adha dilakukan dengan pengeras suara ke luar
  6. Tarhim yang berupa doa menggunakan pengeras suara ke dalam dan tarhim dzikir tidak menggunakan pengeras suara.
  7. Pada bulan Ramadan di siang dan malam hari, bacaan Alquran menggunakan pengeras suara ke dalam.

Upacara hari besar Islam dan Pengajian

Tabligh/pengajian hanya menggunakan pengeras suara yang ditujukan ke dalam dan tidak untuk ke luar, kecuali hari besar Islam memang menggunakan pengeras suara yang ditujukan ke luar.

***

Dikutip 99.co dari hukumonline, biarpun sudah ada aturan mengenai penggunaan speaker masjid, namun tidak disebutkan sanksi bagi pihak yang melakukan penyalahgunaan.

Urbanites, Indonesia merupakan negara yang penuh keberagaman, baik suku, adat, budaya, serta agama.

Sudah sepantasnya kalau kita semua saling menghargai dan bisa menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.

Bagaimana pendapatmu, Urbanites? Semoga ulasan di atas dapat bermanfaat untuk Anda!

Comments
Loading...