Mencuri Isi Rumah Korban Gempa Bumi Sanksi Penjaranya Lebih Berat!

Beberapa waktu lalu bencana gempa bumi menghantam wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Getaran gempa terjadi tak hanya sekali terjadi. Akibatnya banyak rumah yang hancur dan terpaksa harus ditinggalkan para korban gempa bumi.

Sayangnya, di tengah situasi prihatin ada saja oknum-oknum yang berbuat jahat dengan melakukan pencurian di rumah korban gempa.

Dikutip 99.co dari regional.kompas.com, salah satu warga Selaparan di Mataram mengungkapkan banyak benda milik warga yang mengungsi hilang.

Beberapa di antaranya ialah makanan barang elektronik, makanan di toko, tabung gas, kendaraan roda dua, hingga hewan ternak seperti sapi serta kuda.

Pencurian ini adalah pelanggaran hukum yang mana pelakunya bisa mendapatkan sanksi.

Sementara itu pencurian di tengah situasi pasca gempa malah bisa mendapat sanksi yang berlipat.

Baca Juga: Mencuri Saat Terjadi Bencana? Ini Hukuman Pidananya!

Perbandingan Hukuman Pencurian Biasa VS Rumah Korban Gempa Bumi

Tindak pidana pencurian diatur secara khusus dalam Bab XXII Pasal 362 – 367 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Dikutip 99.co dari hukumonline.com, sanksi bagi mereka yang melakukan tindakan pencurian disebutkan dalam Pasal 362 KUHP yang berbunyi:

Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

Tindakan pidana yang disebutkan dalam pasal 362 dikategorikan sebagai pencurian biasa.

Lebih lanjut, pencurian biasa dibahas dalam buku Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 249) karya R. Soesilo.

Dijelaskan bahwa terdapat beberapa elemen yang menjadikan sebuah pencurian tergolong sebagai “pencurian biasa”.

Hal tersebut ialah:

  1. Perbuatan mengambil: mengambil untuk dikuasainya, maksudnya waktu pencuri mengambil barang itu, barang tersebut belum ada dalam kekuasaannya.
  2. Yang diambil harus sesuatu barang: barang di sini adalah segala sesuatu yang berwujud, termasuk pula binatang. Dalam pengertian barang, termasuk pula “daya listrik” dan “gas”, meskipun tidak berwujud akan tetapi dialirkan di kawat atau pipa. Barang ini tidak perlu mempunyai harga ekonomis;
  3. Barang itu harus seluruhnya atau sebagian milik orang lain;
  4. Pengambilan itu harus dilakukan dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hukum (melawan hak).

Sementara itu pada Pasal 363 KUHP dibahas mengenai pencuian dengan pemberatan, termasuk di dalamnya pencurian yang menyasar rumah korban gempa bumi. Seperti ini isinya.

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:

  1. Pencurian ternak;
  2. Pencurian “pada waktu ada kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi, atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang;
  1. pencurian di waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada di situ tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak;
  1. Pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu;
  2. Pencurian yang untuk masuk ke tempat melakukan kejahatan, atau untuk sampai pada barang yang diambil, dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.

(2) Jika pencurian yang diterangkan dalam butir 3 disertai dengan salah

Berdasarkan dua pasal yang dimuat dalam KUHP sebagaimana telah ditulis di atas, jelas bahwa hukuman bagi pelaku pencurian pada rumah korban gempa bumi lebih berat dari pencurian biasa.

Semoga ulasan Rabu Hukum pekan ini dapat bemanfaat untuk Anda.

Comments
Loading...